• FESTIVAL UPACARA ADAT

    Hadiri dan saksikan Festival Upacara Adat yang akan di selenggarakan pada tanggal 30 Maret 2019 bertempat di Alun-alun Wonosari, Gunungkidul, Festival Upacara Adat tersebut merupakan program Dinas Kebudayaaan DIY bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Kabupaten Gunungkiudl dalam rangka melestarikan nilai adat tradisi, khususnya prosesi upacara adat. Festival diikuti oleh 5 kabupaten/ kota meliputi Yogyakarta, Bantul, Gunung Kidul, Sleman dan Kulon Progo. Masing-masing kabupaten/ kota menampilkan tradisi unggulannya sesuai dengan potensi seni budaya di wilayah. Penasaran kan seperti apa meriahnya Festival Upacara Adat ini? Mari kita saksikan bersama-sama pada tanggal 30 Maret 2019.

  • 3478 wajib kunjung musium

    sd negeri duwet : untuk menambah wawasan dan pengetahuan siswa siswi kami dengan ini mohon kiranya sd negeri duwet wonosari d.a jln baron km.4 wonosari gk untuk kelas 4,5,6 berjumlh 70 siswa bisa diberi kesempatan untuk wajib kunjung musium. terimaksih

  • 2798 SD Kamal membutuhkan gamelan jawa

    SD Kamal ada ekstra karawitan namun selama ini menggunakan gamelan milik desa, pernah mengikuti lomba di TVRI, dan tampil disetiap Rasulan

  • Hari Jadi Gunungkidul

    Kabupaten Gunungkidul memasuki usia ke-188 pada tahun 2019. Gunungkidul lahir pada tanggal 27 Mei 1831. Peringatan Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-188 tahun 2019 kali ini bertema “SEMPULUR: Tumangkar, Ngrembaka, Lestari”. Tema tersebut memiliki makna Seluruh karya besar Pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk kesejahteraan masyarakat hasilnya dapat dinikmati dan tetap lestari (terus tumangkar, ngerembaka dan lestari) Sedangkan makna logo menitik beratkan pada semangat optimisme terhadap kondisi wilayah dan harapan untuk masa depan. Warna merah sebagai sibolisasi karakter warna tanah Gunungkidul yang kita pijaki, kita tinggali, kita olah dan kita kembangkan dengan semangat juang pantang menyerah. Warna kuning sebagai simbolisai warna madu. Dimana filosofi madu yang dihasilkan lebih dapat bermanfaat untuk banyak hal, begitupun harapan untuk Gunungkidul di masa depan. Dari dua warna tersebut, terinspirasi dari filosofi pembangunan. Podang Ngisepsari milik Kabupaten Gunungkidul yang telah dimasyarakatkan melalui umbul-umbul Podang Ngisepsari Podang : Segenap lapisan masyarakat Ngisep : Usaha untuk memiliki dengan mengambil manfaat segenap potensi yang ada dengan tidak merusak lingkungan. Sari : Madu bunga yang dimiliki merupakan potensi baik flora, fauna maupun alam Dibawah tulisan 188 gk terdapat tulisan Sempulur yang merupakan wujud karakter masyarakat yang humanis, kental dengan kearifan lokal, nilai kegotongroyongan, ramah, mudah berbaur, memiliki rasa toleransi yang tinggi satu sama lain dan berbudaya. Inilah wujud langkah nyata yang sedang berlangsung di masyarakat kita dan harapan kedepan akan tetap lestari. Pada tahun ini peringatan hari jadi Kabupaten Gunungkidul di laksanakan mundur dari tanggal biasanya dikarenakan bersamaan dengan bulan suci Ramadhan sehingga pelaksanaan peringatan hari jadi Kabupaten Gunungkidul dilaksanakan mulai tanggal 18 Juni 2019 hingga puncak acara 22 Juni 2019. Mari kita ramaikan dan lestarikan acara tersebut, banyak hiburan menarik di antaranya 1. Pentas Seni Jathilan 2. Pentas Seni Reog 3. Parade Tari 4. Parade Band 5. Pentas Kethoprak 6. Kirab Budaya 7. Stand Kuliner dan UMKM

  • Upacara Adat Labuhan Sedekah Laut Pantai Baron

    Pada hari Rabu tanggal 19 Agustus 2020 Pemerintah Desa Kemadang Kecamatan Tanjungsari menyelenggarakan upacara adat Labuhan atau juga sering disebut Sedekah Laut di Pantai Baron. Upacara adat Labuhan kali ini dihadiri oleh Dinas Kebudayaan Kab. Gunungkidul, Dinas Pariwisata Kab. Gunungkidul, Kapanewon Tanjungsari, Perangkat Kalurahan Kemadang, serta perwakilan masyarakat Desa Kemadang. Prosesi Labuhan yang diawali dengan kenduri di pendopo pantai setempat disaksikan ribuan wisatawan yang hadir. Lurah Desa Kemadang mengatakan bahwa Labuhan di Pantai Baron merupakan bentuk ungkapan syukur kepada Tuhan atas rezeki yang diterima oleh masyarakat baik nelayan, pedagang, dan lain sebagainya. Drs. Ristu Raharja selaku Kepala Bidang Adat Tradisi Lembaga Budaya Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kab. Gunungkidul menyampaikan bahwa adat tradisi harus tetap dilaksanakan dan dirawat sebagaimana mestinya. Walaupun berada di tengah kondisi Pandemi Covid-19 tentu upacara adat dapat tetap dilaksanakan sesuai protokol kesehatan yang telah ditentukan.