Smart City Berbasis Green Building: Jalan Indonesia Menuju Net-Zero Emission

Perubahan iklim menjadi salah satu isu terbesar abad ini. Indonesia, sebagai bagian dari komunitas global, telah menyatakan komitmennya untuk menurunkan emisi gas rumah kaca hingga 31,89% secara unconditional dan 43,20% secara conditional pada tahun 2030 sesuai Enhanced NDC 2022.

Salah satu sektor penting yang berkontribusi besar dalam emisi adalah bangunan dan konstruksi. Untuk itu, pengembangan green building dan smart building menjadi jalan strategis menuju masyarakat dengan emisi nol bersih (net-zero emission society).

Pemerintah telah menetapkan berbagai regulasi yang mengatur penerapan bangunan hijau dan bangunan cerdas, di antaranya:

  • UU No. 16 Tahun 2016 yang meratifikasi Paris Agreement.
  • PP No. 98 Tahun 2021 tentang Nilai Ekonomi Karbon, menempatkan bangunan dalam kategori sektor energi.
  • Peraturan Menteri PUPR No. 21 Tahun 2021 tentang Penilaian Kinerja Bangunan Gedung Hijau.
  • Peraturan Menteri PUPR No. 10 Tahun 2023 tentang Bangunan Gedung Cerdas.

Kerangka ini menetapkan prinsip, elemen, serta parameter wajib dalam pembangunan gedung, mulai dari efisiensi energi, sistem ventilasi, pencahayaan, pengelolaan limbah, hingga integrasi sistem digital untuk kontrol dan keamanan.

Indonesia memiliki potensi energi surya yang sangat besar dengan rata-rata Global Horizontal Irradiance (GHI) harian mencapai 4,532 kWh/m². Pemanfaatan energi ini dapat dilakukan melalui:

  • Rooftop Solar PV
  • Floating Solar PV
  • Large-scale Solar PV
  • Hybrid off-grid system

Pemanfaatan energi terbarukan pada bangunan tidak hanya mendukung dekarbonisasi, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dan memperluas akses listrik di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Bangunan cerdas mengoptimalkan konsumsi energi melalui sensor, sistem kontrol otomatis, dan analitik data. Sistem ini dapat:

  • Memantau konsumsi listrik secara real-time.
  • Mengendalikan peralatan untuk mengurangi beban puncak (demand response).
  • Terintegrasi dengan energi terbarukan.
  • Meningkatkan keamanan dengan sistem alarm bencana, kamera pengawas, serta kontrol akses digital.

Dengan demikian, bangunan cerdas tidak hanya efisien, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan pengguna serta mampu mendukung keberlanjutan kota.

Transformasi menuju net-zero carbon building merupakan bagian penting dari visi kota cerdas di Indonesia. Melalui penerapan kebijakan yang tegas, pemanfaatan energi terbarukan, serta adopsi teknologi bangunan cerdas, Indonesia dapat menciptakan kota yang ramah lingkungan, efisien, dan berdaya saing global.


Sumber:
Smart City – Business Matchmaking (Komdigi Jogja): Clean Energy Pathways Toward Net-Zero Carbon Buildings and a Net-Zero Emission Society in Indonesia, 2025

Previous Infrastruktur Digital sebagai Fondasi Smart City

Dikembangkan oleh Diskominfo Gunungkidul © 2023